Di Balik Dinding-Dinding Berlumut

By Henry Multatuli

Seorang gadis kecil berambut pirang dan bermata hijau berlari menghampiri orangtuanya yang menunggunya di ujung lorong Souq Hamidiah (Pasar terkenal di Damaskus). Anak ini bukanlah peranakan bule, atau keturunan Eropa. Gadis ini anehnya kita sebut dengan gadis arab, karena mereka memang berbahasa arab. Itulah Suriah, negara pertama kali saya kunjungi selama hidupku. Tahun lalu adalah tahun dimana saya menginjakkan kaki saya pertama kalinya ke luar negeri. Pesawat Ettihad menerbangkanku ke Suriah selama hampir 7 jam setengah. Ya, Suriah, di sanalah tempat realisasi cita-citaku dan keluargaku untuk belajar bahasa arab. Setahun sudah saya menyelami berbagai budaya, sejarah dan adat Arab Suriah, serta berbagai pengalaman bersama rakyat Suriah selama setahun. Banyak keunikan, pengalaman, asam dan garam tinggal di negeri orang. Tentu, berbagai kendala lebih bersifat kultural ketimbang politiknya karena kita tidak memiliki problem secara diplomatis dengan Suriah.

salah satu pemandangan Damaskus Tua
Setelah belajar di sini, saya baru menyadari berbagai hal unik yang saya temukan disini terutama sejarahnya. Kota Damaskus, yang juga sebagai ibukota Suriah ternyata kota tertua di dunia yang masih fungsional hingga detik ini. Kota Damaskus sejatinya dibagi dua bagian yang satu damaskus baru (dimasqul jadidah) dan damaskus tua (dimasqul qadimah). Tentu yang dimaksud Sejarawan adalah Damaskus tua, karena Damaskus tua masih menyisakan benteng-benteng (suur) peninggalan asli kota Damaskus. Di balik dinding yang berbatu itu tersimpan memori-memori perjuangan imperialisme asing yang mengguncangnya sedemikian hebat. Damaskus Tua adalah pelaku sejarah yang memainkan peran sentral semenjak peradaban Mesir Kuno, Hitties, Romawi Timur, Dinasti Umayya, Perang Salib, Ottoman, hingga kolonial Prancis di abad 20.

Begitu banyak jejak-jejak peradaban yang menapakkan kakinya di kota ini sehingga kebudayaannya tampak ekletis (tercampur-campur). Ambil contoh makananShawarma. Banyak orang mengira shawarma berasal dari Arab, tapi hakikatnya makanan itu berasal dari Turki dengan nama asli çevirme. Karena cukup lama Suriah beserta negara-begara Arab lainnya berada di bawah pemerintahan Ottoman Turki (Usmani). Jika kita datang di sebuah festival (mahrajaan) biasanya ditampilkan Tarian Darwis. Tarian mistis warisan Maulana Rumi yang sangat erat kaitannya dengan kebudayaan Turki ketimbang Arab.

Mesjid Umayyah
Salah satu ikon Damaskus Tua adalah Mesjid Umayyah yang telah berkali-kali berpindah tangan. Awalnya adalah kuil Yupiter peninggalan Romawi Kuno kemudian beralih profesi menjadi Gereja St. John the Baptist hingga akhirnya menjadi mesjid Ummayah di bawah dinasti Umayyah. di dalamnya terdapat makam John/Yahya, nabi bagi baik kaum Kristen maupun Islam.
Di Suriah, begitu banyak pula peninggalan-peninggalan Romawi, salah satunya adalah Palmyra yang merupakan kota peninggalan Romawi terbesar di Suriah. Palmyra dulu dipimpin oleh seorang ratu termasyur bernama Zenobia yang hingga akhir hayatnya masih misteri. Kota itu dalam bahasa Aram disebut tadmur, yakni artinya kota yang tidak tunduk. di Waktu itu kota yang di bawah kendali ratu Zenobia itu hendak melepaskan dirinya dari kekaisaran Romawi dan memproklamasikan kerajaan sendiri bernama Kerajaan Palmyra hingga akhirnya diserang oleh Romawi di bawah komando Aurelianus. Kini ratu Zenobia menjadi wanita termasyur sepanjang sejarah sejajar dengan nama-nama seperti Nefertiti di Mesir, Dido di Afrika Utara, dan Joan D’arc di Prancis.

Palmyra, Suriah

Ada satu hal yang unik di Damaskus Tua ini, kota itu juga dianggap museum peninggalan sejarah sekaligus kota tempat bermukim. Kita ambil contoh bagaimana misalnya wilayah Kota dan Senen di JakartaUtara dijadikan museum sekaligus area residen. Pemerintah Suriah betul-betul memanfaatkan ketuaan kota Damaskus sebagai devisa negara dan kocek mereka tidak sedikit dihamburkan demi pengembangan pariwisata. Misalnya dalam 5 tahun terakhir ini mereka merenovasi berbagai titik-titik bersejarah di dalam benteng tua itu sehingga tetap menjaga keintiman kota itu dengan keantikannya yang memancarkan pesona bagi setiap turis asing yang datang ke situ. Suatu hal yang saya tidak lihat di ibukota kita.

Melihat Kota itu, seakan saya terlempar ke ruang waktu di mana derap kaki kuda masih samar-samar terdengar di balik lorong-lorong tua nan gelap itu. Sambil berjalan di antara lorong-lorong berbatu itu, teringat Indonesiaku yang kucinta. Seandainya kita semua menghargai sejarah, namamu kelak akan bergema di kejauhan lorong gelap ini

*) Henry Multatuli adalah pelajar yang menghabiskan 2 tahun di Suriah sejak 2009-2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s